Mendidik Dengan Hati...

DAHSYATNYA BERBAIK SANGKA

Mengembangkan kebiasaan berbaik sangka menjadi sangat bermamfaat dalam usaha membentuk konsep diri seseorang agar dapat memiliki jati diri yang positif. Sebaliknya, kita diajarkan untuk tidak berburuk sangka. Karena kebiasaan tersebut dapat mengakibatkan perasaan yang tidak bahagia yang berkepanjangan(Khalil A. Khavari, The Art of Happiness, 2006). Selain itu, prasangka buruk selalu berteman akrab dengan perasaan negatif.
Mengapa kita perlu selalu berbaik sangka. Alasannya karena berbaik sangka akan membentuk konsep diri yang positif. Apa sebenarnya konsep diri? Mengapa konsep diri menjadi sangat penting, dan bagaimana proses pembentukan konsep diri itu berlangsung?
Dalam kehidupan seorang individu, bentuk konsep diri yang dimilikinya sangatlah menentukan keberhasilannya dalam pembelajaran hidup, suatu proses pembelajaran yang tak pernah putus yang berlangsung sepanjang hayat. Menurut Adi W Gunawan, seorang praktisi accelerated learning, konsep diri adalah kunci pembuka harta karun potensi diri.(Genious Learning Strategy, 2006). Apa sebenarnya konsep diri itu? Untuk memahami arti konsep diri memang diperlukan suatu analogi yang sesuai. Adi Gunawan menggunakan analogi konsep diri bagaikan sistem operasi sebuah komputer. Sekarang ini Window Vista adalah sebuah system operasi yang digunakan untuk menggerakkan sebuah leap-top seri Acer terbaru dengan prosessor Duocore. Komputer ini tidak akan bekerja dengan maksimal apabila dioperasikan dengan menggunakan sebuah system operasi yang sudah tua seperti MS DOS versi 3.0. Komputer bahkan mungkin malah akan mogok kerja, mandek, dan tidak bisa dioperasikan sama sekali.
Konsep diri hampir mirip dengan system operasi yang ada pada komputer tersebut. Hanya saja konsep diri adalah suatu system operasi yang kita ciptakan sendiri melalui proses pengasuhan dan pendidikan serta pembelajaran yang dialami dan dimulai dari masa kanak-kanak. Konsep diri yang ada pada diri kita berfungsi untuk menjalankan perangkat komputer yang super canggih “neck-top” (meminjam istilah Adi Gunawan), suatu jaringan mental yang terletak diantara kedua telinga kita. Seperti sistem operasi sebuah komputer yang selalu diupgrade dan disesuaikan dengan perangkat yang akan dioperasikan, konsep diri yang kita miliki memang menjalani proses pembaharuan setiap saat secara alami.
Bagaimana konsep diri kita terbentuk? Banyak orang yang menganggap dan mengira bahwa konsep diri terbentuk hanya melalui pendidikan formal. Padahal konsep diri kita sebenarnya dibentuk jauh sebelum seseorang mengenyam pendidikan formal, yaitu di masa-masa pengasuhan yang dimulai saat seseorang masih bayi lagi. Pengalaman yang diperoleh oleh seorang bayi di masa pengasuhan melalui interaksi dengan ibu, keluarga dan lingkungan akan mejadi dasar konsep diri seseorang. Konsep diri ini kemudian diperkuat melalui pengalaman hidup yang diperoleh dan dialami setiap hari hingga usia dewasa.
Misalkan saja konsep diri bagaikan sebuah kursi, sebuah tempat duduk yang paling sedikit berkaki empat. Ketika seorang bayi dilahirkan, dia telah memiliki konsep diri yang masih sangat sederhana, bagaikan sebuah bakal kursi yang belum memiliki kaki, yang hanya berbentuk selembar daun kursi, karena kaki-kaki kursi tersebut memang belum terpasang. Pelan tapi pasti, kejadian yang dialami bersama ibu, pengasuh, keluarga, guru, dan lingkungan akan membentuk kaki-kaki pada kursi konsep diri anak tersebut. Lalu seberapa kokoh konsep diri anak akan sangat tergantung pada emosi yang dialaminya ketika kaki-kaki kosep diri itu ditancapkan, serta seberapa sering pengulangan penanaman konsep diri ini dialami oleh anak. Apabila penanaman konsep diri ini benar, maka jadilah dia bak sebuah kursi yang kokoh. Sebaliknya, dia akan rapuh, keropos, dan mudah ambruk apabila kita keliru dalam menanamkan konsep diri.
Berbaik sangka adalah salah satu proses dari penanaman konsep diri secara benar, baik kepada diri sendiri, anak-anak, serta orang di sekitar kita. Kalau yang kita inginkan adalah seorang anak cerdas, maka sejak dini kita harus selalu berprasangka baik bahwa anak kita memang cerdas, dan cemerlang. Dengan demikian perkataan-perkataan positif, pujian, dan sanjungan, seperti “ engkau ini memang anak cerdas”, “anak pintar” merupakan pupuk yang sehat untuk menumbuhkan suburkan konsep diri positif pada diri mereka. Itulah sebabnya mengapa dianjurkan agar sejak dini selalu berbaik sangka dan sering mendorong anak-anak dengan perkataan positif “ engkau bisa nak”, “ engkau mampu”, “engkau akan berhasil”. Ini dimaksudkan agar kelak dalam perjalanan hidupnya, anak menjadi diri yang mampu, bisa, dan berhasil mengatasi permasalahan kehidupan secara mandiri. Sebaliknya, apabila kita sering berburuk sangka kemudian sering mengatakan hal-hal yang negatif, hal-hal yang dapat merusak dan melemahkan konsep diri mereka, ini sama saja secara perlahan namun pasti kita sedang membentuk konsep diri yang rapuh.
Dalam sebuah seminar bagaimana melejitkan potensi anak sejak dini di Pontianak beberapa bulan yang lalu, Ibu Septi Wulandari, seorang pakar joyful learning yang terkenal dengan pendidikan “Jarimatikanya”, mengisahkan, bahwa suatu hari beliau menghadiri acara wisuda sarjana baru di ITB. Dalam kesempatan itu diumumkan wisudawan termuda, tercepat dan tertinggi IPK nya. Ternyata wisudawan muda yang berbahagia tersebut adalah anak keluarga petani dari sebuah desa di Jawa Tengah. Begitu acara selesai, buru buru beliau menghampiri sang Ibu yang tampak sederhana dan bersahaja, lalu menanyakan apa resep beliau sehingga dapat menghantarkan putra tercinta meraih tiga prestasi tersanjung dan membanggakan tersebut. Sang ibu bertutur, bahwa ketika putra beliau masih kecil, sebagai orang desa beliau tak pernah lupa setiap menjelang tidur, selalu mengeloni anak tercinta, menghantarkannya dengan doa sederhana “sing jadi anak pintar yo nak” sambil mengusap lembut ubun-ubun sang putra.
Ucapan sederhana ini memang menjadi begitu dahsyat, karena diucapkan dengan tulus, ikhlas, dan penuh kasih sayang oleh seorang ibu. Ucapan tersebut menjadi doa. Karena secara konsisten diucapkan menjelang tidur, ia kemudian mengendap pada alam bawah sadar sang putra dan membangun konsep dirinya yang kokoh untuk menjadi anak yang cemerlang. Konsep diri ini memang terbukti menghantarkan putra tercinta menjadi wisudawan yang mendapat sanjungan.
Lalu apabila sudah terlanjur, masih bisakah konsep diri yang sudah katon terbentuk pada diri kita diprogram ulang? Semuanya tergantung kita. Kita harus punya alasan kuat mengapa harus berubah. Kita sendiri yang harus berkuat serta berkeras hati untuk melakukan perubahan. Kita yakin memang kita akan berubah. Perubahan itu harus dilakukan setiap saat secara konsisten.
Suatu penelitian menunjukkan bahwa dalam sehari kita paling banyak bicara dengan diri sendiri (self-talk). Dan berbicara kepada diri sendiri ini lebih banyak mengenai hal hal yang negatif yang melemahkan konsep diri. Nah, mulailah selalu berbaik sangka kepada diri sendiri. Bicaralah kepada diri sendiri bahwa kita bisa, kita mampu. Bayangkan bahwa kita adalah diri yang sukses. Lakukan pembentukan dan format ulang konsep diri ini secara berulang-ulang setiap hari. Makin sering makin baik. Libatkan emosi agar hasilnya lebih maksimal. Ingat kejadian kejadian yang membuat kita bahagia karena sebuah keberhasilan. Ikutkan perasaan bahagia tersebut setiap kita memformat ulang konsep diri. Kita harus yakin bahwa kita memang akan berhasil. Jangan lupa, lakukanlah dengan sungguh sungguh dan ikhlas. Tutuplah dengan permohonan kepadaNya. Begitu dahsyat pengaruh berbaik sangka terhadap kepercayaan diri. Semoga

Tidak ada komentar: